#MBF: Ekskul (2006), Film Mengharukan Dan Penuh Pesan Tentang Pembalasan Seorang Siswa Korban Bullying

loading...
ekskul-2006.jpg
Judul: Ekskul
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: Shankar RS, Kristuadji Legopranowo
Penulis Naskah: Eka D. Sitorus
Studio: Indika Entertainment
Rilis: 14 Mei 2006
Negara: Indonesia
Genre: Drama, thriller
Pemain: Ramon Y Tungka, Metha Yunatria, Sheila Marcia, Indra Brasco, Teguh Leo, Samuel Z Heckenbucker, Gabriel Martianie, Mira Hera Waty, Julivan Persada, Inong, Pipip Sasati, Tizza Radia, Boogie Samudra, Erly Ashy

Ekskul (2006) menjadi film Indonesia pertama yang saya jadikan pembahasan di kategori #MBF alias Minggu Bahas Film.

Ekskul (2006) sudah lama dirilis yaitu pada tanggal 14 Mei 2006. Disutradarai oleh sutradara kondang yang penuh kontroversi yakni Nayato Fio Nuala dan naskah ceritanya ditulis oleh Eka D. Sitorus.

Joshua (Ramon Y Tungka) selalu mendapatkan tindakan bullying dari teman-teman di sekolahnya terutama dari tim basket yang diketuai oleh Mike (Samuel Z Heckenbucker). Ia kerap kali dipukul, ditampar, digantung di depan murid lain dan juga sempat kepalanya di celupkan ketoilet. Tak hanya di sekolah, kedua orang tuanya di rumah juga memperlakukan Joshua dengan pola asuh yang salah. Ibunya terkesan acuh terhadap Joshua dan ayahnya selalu menggunakan kekerasaan untuk mendidiknya. Ditambah kepala sekolah di sekolah Joshua tidak mengambil tindakan atas prilaku Mike terhadap Joshua karena orang tua Mike menjadi penyumbang terbesar untuk pembangunan fasilitas sekolah.

joshua-di-bullying.jpg
Joshua ketika di bully oleh kelompok Mike

Semua hal tersebut membuat Joshua semakin tertekan dan akhirnya mengambil sebuah keputusan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang pernah membullynya. Ia membeli sebuah pistol dan mulai menyandera siswa yang menjadi targetnya di ruang guru BP. Polisi pun datang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagaimanakah akhir kisah penyanderaan yang dilakukan Joshua?

Film ini sedikit mirip dengan film My Little Baby, Jaya (2017) dari Korea Selatan. Dari tema yang diangkat sampai endingnya pun hampir sama.

Baca juga: #MBF: My Little Baby, Jaya (2017), Film Drama Korea Menyayat Hati Tentang Seorang Gadis Malang Yang Di Bully Secara Ekstrem

Saya banyak menemui review-review negatif untuk film ini. Sebenarnya itu wajar karena pada kenyataannya film ini memiliki banyak kekurangan. Entah apa yang terjadi sampai-sampai ada kesalahan yang sangat jelas terlihat bahkan untuk penonton awam sekalipun pasti menyadarinya, pistol yang dibeli Joshua itu diceritakan hanya ada satu peluru tapi kenapa bisa menembak dua kali? Belum lagi ada karakter-karakter yang seperti sia-sia dimasukan dan kurang di ekspos seperti Shabina (Sheila Marcia). Seharusnya Shabina bisa lebih berpengaruh dalam keseluruhan cerita bukan hanya muncul dengan tidak jelas dan tampil di adegan menangis yang tak memberikan efek apa-apa. Yang saya lihat peran yang cukup menonjol untuk Shabina adalah ketika dirinya menjadi penelepon pertama yang menghubungi polisi atas tindakan penyanderaan Joshua, kebetulan ayah Shabina adalah seorang komandan polisi yakni Komandan Margono (Indra Brasco).

Tapi ketika saya tahu kalau sutradara Nayato Fio Nuala adalah seorang sutradara yang cukup aneh, unik dan agak nyelenah saya menganggap wajar film Ekskul (2006) hasilnya seperti ini. Asal sobat tahu saja, Nayato adalah sutradara Indonesia yang paling cepat dalam memproduksi sebuah film. Dalam satu tahun Nayato bisa menyelesaikan 13 film, itu terjadi pada tahun 2011. Sayangnya kuantitas tidak berbanding lurus dengan kualitas. Kebanyakan film karya Nayato di cemooh banyak kritikus karena penggarapannya yang terkesan asal-asalan.

Tapi, dibalik semua kekurangannya saya tetap memuji sutradara kelahiran 28 Februari 1968 ini. Ia terbilang cukup berani menghadirkan hal-hal yang dipandang tabu oleh masyarakat kita. Film yang menghadirkan percintaan lesbian pun sempat ia angkat ke layar lebar. Di film Ekskul (2006) ini juga ada adegan ciuman padahal seperti yang kita tahu adegan yang seperti itu jarang ditemui di film Indonesia. Memang sih agak menjurus ke hal negatif tapi untuk sekedar hiburan cukup menarik agar perfilman kita lebih bervariasi dan berwarna serta tidak monoton.

Anehnya dengan semua kenyelenehan yang dibuatnya, film-film yang disutradarai oleh Nayato selalu berhasil meraih penonton yang cukup banyak. Hampir semua filmnya tidak ada yang merugi, ada yang balik modal sampai menghasilkan keuntungan yang lumayan banyak.

Saya sejujurnya cukup kecewa film dengan tema sebagus ini dibuat Nayato dengan tidak memperhatikan detail-detail kecil yang justru merusak film. Andai saja tema bullying di sekolah seperti film Ekskul (2006) ini sekarang dibuat lagi dan kursi sutradara diserahkan kepada sutradara seperti Hanung Bramantyo atau Joko Anwar maka saya yakin film tersebut akan menjadi salah satu film Indonesia terbaik.

Ekskul (2006) memang diselimuti banyak kekurangan tapi siapa sangka film ini berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2006. Selain itu kategori Sutradara Terbaik, Editor Terbaik dan Penata Suara Terbaik juga berhasil dimenangkan film Ekskul (2006). Sial bagi Nayato, kemenangan dalam kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik bagi dirinya dibatalkan karena Ekskul (2006) dituding melakukan pelanggaran hak cipta dalam musiknya.

Fokus utama Ekskul (2006) sepertinya adalah menyampaikan pesan bagaimana bahayanya tindakan bullying di sekolah serta bahayanya terlalu sering menggunakan kekerasan dalam mendidik anak. Jika ditilik dari segi amanat film ini jelas berhasil mengetuk hati para penontonnya.

Ekskul (2006) menggunakan alur maju mundur dan bernuansa gelap dalam artian sebenarnya ataupun kiasan. Film ini memang sangat minim pencahayaan, bahkan di siang harinya pun kegelepan masih menyelimuti. Itu semakin menekankan kalau film ini tentang seseorang yang depresi.

Scoring musiknya juga menjadi keunggulan film ini. Kita akan semakin dibawa hanyut dalam kondisi tertekan Joshua dengan musik yang diperdengarkan sebagai pengantar di setiap adegannya.

Baca juga: Lagu-Lagu Bertemakan Tentang Bullying Terbaik

Mungkin di awal kita akan dibuat kebingungan dengan film ini apalagi buat sobat yang jarang menonton film dengan alur seperti ini. Saat proses penyanderaan yang dilakukan Joshua, kita akan diperlihatkan satu persatu potongan-potongan perstiwa mengerikan yang dialami Joshua yang menjadi alasan kenapa ia menjadi seperti psikopat yang berani melakukan penyanderaan.

Bumbu percintaan juga sempat nampak di film Ekskul (2006). Sedikit kebahagian mulai menghampiri Joshua ketika dirinya dekat dengan seorang wanita bernama Katie (Metha Yunatria). Mereka berdua semakin dekat dan saling jatuh cinta tapi kelakuan aneh Joshua membuat Katie menjauh. Parahnya Katie malah jadian dengan salah satu teman Mike yang membuat Joshua sangat kecewa dan menjadikan Katie juga sebagai salah satu murid yang ia sandera.


Selain Katie, ada Shabina yang juga menaruh iba atau mungkin jatuh cinta pada Joshua. Shabina bisa merasakan dan juga mengalami tekanan yang dialami Joshua meskipun tekanan yang dialami Shabina berbeda dari Joshua. Disinilah seharusnya karakter Shabina lebih diberikan banyak porsi, ending berbeda bisa dibuat andai karakter Shabina bisa dimanfaatkan lebih baik.

shabina-dan-joshua.jpg
Shabina dan Joshua

Memasuki seperempat film mata kita akan dipaksa mengeluarkan air mata. Momen ketika Joshua mulai menyampaikan semua unek-uneknya kepada semua orang benar-benar menyayat hati.

Guru BP: Sekali lagi ibu minta nak sudahi ulah kamu ini!
Joshua: Ulah apa bu?
Guru BP: Jangan bercanda Joshua!
Joshua: Saya ingin hukum mereka bu!
Guru BP: Saya juga tapi kita tidak punya hak.
Joshua: Yang berhak malah gak ngelakuin apa-apa.

"Papi inget waktu papi ajari Joshua jadi kiper
Joshua bisa nahan tiga tendangan langsung
Papi angkat Joshua
Sampai semua orang dilapangan nyorakin kita
Papi inget?
Napa gak bisa seperti itu lagi, papi?
...
Makasih sudah dengerin Joshua."

Diatas adalah percakapan dan quotes terbaik menurut saya. Dua kali saya nonton Ekskul (2006), dua kali juga saya menangis di momen itu. Di scene itu juga lah pesan serta amanat film ini tersampaikan dan semakin mudah di resapi.

Scene tersedih di Ekskul (2006)


Pemeran terbaik di film ini jelas jatuh kepada Ramon Y Tungka a.k.a VJ Ramon. Ia sangat berhasil memerankan karakter Joshua yang depresi dan penuh tekanan. Saat ia harus bertingkah seperti orang gila ia berhasil, pun demikian saat harus membuat penonton iba lewat adegan menangisnya ia juga berhasil.

Disaat sekarang banyak film yang menggunakan popularitas pemerannya untuk menjaring penonton, Ekskul (2006) sangat lah berbeda. Ramon Y Tungka sekarang memang sudah membintangi banyak judul film tapi saat menjadi pemeran utama Ekskul (2006) ia baru membintangi satu film yakni Catatan Akhir Sekolah (2005). Jelas kepopulerannya tak bisa diandalkan untuk menggaet penonton saat itu.

Ekskul (2006) sangat cocok ditonton oleh semua orang. Baik untuk murid sekolahan, guru ataupun orang tua.

Untuk murid semoga setelah menonton film ini bisa lebih menghargai teman. Jangan pernah menyakiti mereka, sekalipun mereka kelihatan lemah dan tampak tak mampu membalas tapi jika kelewat batas bisa saja aksi Joshua di film ini dilakukan oleh orang yang sering sobat sakiti.

Film ini juga menunjukan sedikit kritikan terhadap dunia pendidikan kita. Kadang memang karena si murid berasal dari keluarga terhormat para guru bahkan kepala sekolah menganak emaskan murid tersebut. Guru yang seperti itu tidak akan mendapatkan rasa hormat dari para murid, para murid akan hormat hanya sekedar karena formalitas jabatannya sebagai guru.

Selain itu, untuk sobat yang sekarang bekerja sebagai guru selayaknya harus lebih peka terhadap keadaan para murid. Guru disebut sebagai pekerjaan mulia bukan tanpa alasan, guru itu bukan hanya mengajarkan materi pelajaran tapi lebih dari itu. Ada istilah guru adalah orang tua kedua, jadi jangan hanya menganggap memberi materi pelajaran maka pekerjaan sobat sebagai guru selesai, kalau memang begitu arti dari menjadi seorang guru maka tak pantas guru di sebut sebagai pekerjaan mulia. Guru juga selayaknya menjadi tempat mengadu, kadang ada anak yang memiliki keluarga yang kurang harmonis, jika istilah guru adalah orang tua kedua itu bukan hanya omong kosong maka tak salah jika si anak tersebut mengadu dan mengharapkan perhatian dari gurunya. Disinilah peran guru yang sesungguhnya.

Untuk para orang tua saya yakin hatinya akan teriris ketika menyaksikan scene yang saya sebut sebagai scene tersedih di film ini. Bagaiamana curhatan seorang anak yang berharap keluarganya menjadi benteng terakhir dari tekanan dunia luar tapi yang terjadi keluarga ternyata tak jauh berbeda dari dunia luar. Saya tak habis pikir bagaimana rasanya menjadi Joshua, dikucilkan teman-temannya dan tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.

Saya heran kenapa sekarang tak ada stasiun televisi yang mau menayangkan film ini padahal film ini cukup menarik dan memberikan pesan positif.

Overall, Ekskul (2006) memang punya segudang kekurangan tapi itu tertutupi dengan tema menarik, scoring musik ciamik, akting yang berkualitas dan tentu saja pesan yang mendalam.

Rating: 7/10

Sumber referensi: wikipedia.org, filmindonesia.or.id, imamhadikusuma.blogspot.com, laranta.blogspot.com
Sumber gambar: percikandiary.blogspot.com, fmoviez.org

Tags: Review & Ulasan Ekskul (2006), Informasi Lengkap, Daftar Pemain Kru, Fakta Unik, Movie Drama Lokal, #MBF, Film Bertemakan Bullying, Film Dewasa Indonesia
loading...

3 Responses to "#MBF: Ekskul (2006), Film Mengharukan Dan Penuh Pesan Tentang Pembalasan Seorang Siswa Korban Bullying"

loading...

FANSPAGE FACEBOOK