Lovely Man (2011), Film Tentang Hubungan Ayah Dan Anak Yang Aneh

lovely-men-2011.jpg

Poster, yah poster yang membuat saya tertarik dengan film ini. Seorang gadis berjilbab duduk bersandar pada seorang waria. Apa yang terbesit di pikiran sobat? Tentu saja sebuah film dengan cerita yang tidak bisa kita temui setiap tahun. Film dengan cerita yang fresh namun agak sentimental.

Lovely Man (2011) bercerita tentang Cahaya (Raihaanun), seorang gadis pesantren yang pergi ke Jakarta untuk menemui ayahnya yang sudah lama tidak ia temui. Setelah mencari akhirnya ia menemukannya tapi ayahnya itu tidak sesuai ekspektasinya. Syaiful (Donny Damara), ayah Cahaya ternyata bekerja sebagai waria dengan nama panggilan Ipuy. Keduanya awalnya saling cuek terutama Ipuy yang tak memgharapkan Cahaya datang menemuinya. Cahaya hanya punya waktu satu malam di Jakarta karena ia sudah berjanji akan pulang esok hari kepada ibunya dikampung. Dalam waktu satu malam ayah dan anak itu sedikit demi sedikit saling mencurahkan isi hatinya dan menumbuhkan hubungan ayah dan anak di diri masing-masing.

cahaya-lovely-man-2011.jpg
Cahaya, gadis pesantren yang pergi ke Jakarta mencari ayahnya

Lovely Man (2011) merupakan sebuah film drama yang disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja yang juga merangkap sebagai penulis naskah ceritanya. Film yang diproduksi oleh Karuna Pictures dan diproduseri oleh Indra Tamoron Musuh ini dibintangi oleh Donny Damara, Raihaanun, Yayu Unru, Ari Syarif dan Lani Sonda.

Sebelum dirilis pada tanggal 10 Mei 2012 di bioskop tanah air, Lovely Man (2011) sempat diputar di Busan International Film Festival pada tanggal 7 Oktober 2011. Selain itu, film ini juga sempat di putar di beberapa festival film lainnya. Film ini sempat mendapatkan kecaman dari FPI dan membuat Lovely Man (2011) hanya bertahan beberapa hari di Q! Film Festival 2011, festival film pertama yang memutar film ini.

Film semacam ini memang menurut saya langganan festival karena di bioskop kenyataannya film ini kurang diminati. Mungkin juga karena promosi yang minim, boro-boro untuk promosi pembuatan film ini saja termasuk low budget karena pada awalnya film ini akan menjadi film pendek bukan film panjang jadi wajar saja dananya sangat terbatas.

Ide pembuatan film ini sendiri muncul ketika sang sutradara Teddy Soeriaatmadja melihat seorang waria yang sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita berkerudung di pinggir jalan pada tahun 2003. Sayangnya, ide tersebut baru terealisasikan menjadi film pada tahun 2011.

Film ini mengangkat dua karakter dengan jati diri yang berlawanan. Cahaya, seorang gadis alim keluaran pesantren yang baru lulus SMA dan Syaiful a.k.a Ipuy yang seorang waria yang bodo amat dengan agama. Islam dan waria, jelas sebuah tema yang dilain sisi menarik namun dilain sisi juga agak menyinggung sampai-sampai memancing respon FPI. Tapi, sebenarnya ini bukanlah film religi melainkan film drama yang mengangkat hubungan ayah-anak yang absurd.

Yang menjadi daya tarik di film ini tentu saja perjalanan satu malam di tengah ibu kota yang kejam antara ayah dan anak untuk membangun relasinya kembali. Potongan demi potongan cerita disajikan film ini yang membuat kita mengerti bagaimana tumbuhnya kembali ikatan ayah dan anak.

ipuy-dan-cahaya.jpg
Ipuy ketika membentak Cahaya saat pertama kali bertemu

Di awal pertemuan mereka berdua Ipuy tampak benar-benar tak mengharapkan kehadiran Cahaya, bagaimana ia membentak Cahaya dan sempat meninggalkannya untuk melewati malam sendirian. Sementara Cahaya awalnya memang seperti tak menerima kenyataan, terlihat ketika Cahaya pertama kali melihat Ipuy ia malah kabur. Tapi, Cahaya sepertinya berpikir logis dan mencoba menerima keadaan ayahnya.

Film ini memperlihatkan kehidupan yang sangat realistis. Jakarta, sebuah kota yang megah namun di film ini kita tidak akan ditunjukkan kemegahan Jakarta melainkan sisi gelapnya. Selain itu kita juga melihat kenyataan yang lebih mengejutkan kalau ternyata Cahaya yang terlihat sebagai gadis alim ternyata pernah melakukan dosa besar. Intinya, semua punya sisi terang dan gelapnya masing-masing, Jakarta dan Cahaya menjadi perumpamaannya.

Ipuy: Bentar lagi adzan subuh.
Cahaya: Emang Bapak Sholat?
Ipuy: Siapa bilang? Caranya aja gue udah lupa. Cuma ya kalau denger adzan rasanya tenang aja. Nyaman gitu. Lo sendiri emang sholat?
Cahaya: Aku ini kan anak pesantren pak.
Ipuy: Terus kenapa kalau anak pesantren?
Cahaya: Emangnya gak lihat tadi pake jilbab.
Ipuy: Heh, jilbab dibuntingin!

Kita juga melihatnya di diri Ipuy. Jika melihat Ipuy maka kita mungkin tidak akan melihat hal positif dari dirinya tapi setidaknya dia tidak melepaskan tanggung jawabnya untuk menafkahi Cahaya dan ibunya dikampung. Itu satu hal yang positif dari Ipuy. Bahkan dibeberapa kesempatan Ipuy sempat menggurui dan memberikan beberapa pepatah bijak pada Cahaya, itu menandakan kalau Ipuy masih peduli pada Cahaya.

Sayangnya di film ini ada beberapa adegan yang tak pantas ditonton anak-anak. Meskipun tidak terlalu vulgar tapi tetap cukup ekstrem untuk anak dibawah umur. Jadi bijaklah ketika menonton film ini, jangan ajak anak dibawah umur untuk ikut menontonnya. Ambil pesan positifnya saja dari film ini.

Sinematografi Lovely Man (2011) juga terbilang bagus. Malam di pinggiran kota Jakarta berhasil di sajikan dengan sangat baik, sorotan-sorotan lampu jalan semakin menambah kesan penyampaian cerita hubungan ayah-anak tersebut. Sangat menarik melihat kehidupan malam hari pinggiran Jakarta yang sebenarnya, semuanya benar-benar jauh dari mewah dan modernya Jakarta. Scoring musik juga cukup ciamik dan pas dengan setiap scene di film ini seperti di scene Cahaya yang mulai berani berbicara agak lantang kepada Ipuy, ketika Cahaya mulai sedikit mengeluarkan air mata scoring musik sedih terdengar membuat suasana yang awalnya biasa saja menjadi mellow. Departemen musik dan suara Lovely Man (2011) dipegang oleh Bobby Surjadi, Malik dan Khikmawan Santosa.

Sementara dari kualitas akting, duet Donny Damara dan Raihaanun luar biasa. Raihaanun berhasil memerankan sosok Cahaya yang seorang wanita alim, polos dan lugu. MVP film ini tentu saja Donny Damara. Ia bisa memerankan karakter waria dengan sangat baik dari mulai logat bicaranya sampai cara berjalannya yang menggunakan high heels. Sayangnya otot ditangannya masih jelas terlihat, memang sih ada juga waria dengan lengan kekar tapi andai lengan Donny Damara tidak terlalu berotot pasti lebih total aktingnya. Berkat perannya sebagai waria di film ini, Donny Damara berhasil menjadi Best Actor di ajang Asian Film Awards 2011 mengalahkan Andy Lau. Selain itu, Donny Damara dan Raihaanun berhasil menjadi Best Actor dan Best Actress di Indonesian Movie Awards 2012. Untuk film Lovely Man (2011) sendiri memang mendapatkan banyak penghargaan dari ajang penghargaan film Asia, bisa dibilang ini sebenarnya film yang membanggakan.

Overall, Protes FPI terhadap film ini memang menumbuhkan stigma negatif di masyarakat apalagi jika melihat konsep yang diusung. Tapi, sangat tidak adil kita menilai dari protes FPI, lagipula FPI bukan kritikus film. Faktanya, Lovely Man (2011) adalah film yang menarik dengan cerita yang tidak biasa dan jika kita mencari pesan positifnya pasti ada pesan positif yang didapat dari film ini. Selain itu, sinematografi, scoring musik dan yang paling menonjol tentu saja aktingnya layak diberi pujian. Berbagai penghargaan menjadi bukti film ini bukanlah film sembarangan yang bisa disisihkan hanya karena protes sebuah ormas.

Rating: 7,5/10

Tags: Review & Ulasan Lovely Man (2011), Informasi Lengkap, Daftar Pemain Kru, Fakta Unik, Trivia, Penghargaan, Sinopsis, Lovely Man (2011) Full Movie Download Subtitle Indonesia, Bluray, Mp4, DVDRip, Film Teddy Soeriaatmadja

5 Responses to "Lovely Man (2011), Film Tentang Hubungan Ayah Dan Anak Yang Aneh"

  1. menarik filmnya kak,


    http://bit.ly/2ls4W2h

    BalasHapus
  2. Wah film yang sangat menginspirasi sepertinya.sepatutnya tetep bekerja tp jgn jd waria��

    BalasHapus
  3. Wah baru tau ada film kaya gini,kaya nya bagus ni

    BalasHapus
  4. Film tanah air, diakui alurny kuat-kuat. Mulai sekarang sineas indonesia bisa mengetahui secara detail keinginan penonton khususnya di dalam negeri. (Budi)

    BalasHapus

IBX5A538CF69476E